Ilustrasi Orang Lagi Jalani Terapi Pijat

PIJAT

Hari ini orang tuaku berniat untuk mengantarkanku terapi pijat. Ternyata sampai panti sudah ada banyak orang yang ngantri.

“Baik, siapa yang lebih dulu mengantri?” tanya tukang pijat yang keluar dari bilik kamar.

Aku terdiam, tidak ingin dipijat. Opiniku mengatakan bahwa dipijat merupakan suatu hal menyakitkan. Dan aku tidak menyukai itu.

“Ranti, Bu” Ayahku berkata sambil menunjukku.

“Sial, kenapa harus aku yang dipijat terlebih dahulu.” Gumamku dalam hati.

Langkah kakiku menuju ke dalam bilik ruang pijat. Sedangkan hatiku memberontak ingin pergi dari tempat pijat itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku pun menuruti perintah ayah. Kurebahkan tubuh di atas ranjang beralaskan sesuatu yang tidak aku sukai, karena mengingatkan akan kematian, kain coklat dengan corak khas batik.

“Kenapa Dik? Kok kakinya bisa memar?” Tukang pijat mencoba akrab denganku.

“Tadi pagi jatuh dari motor.” Aku menjawab kesal. Pijatannya semakin menyakitkan.

Aku tak ingin tahu nama tukang pijat itu. Yang jelas ia seorang tukang pijat, umurnya bisa dibilang rada muda dibanding umur tukang pijat pada umumnya. Aku menyebutnya sebagai tukang pijat.

“Biar tidak terlalu kaku, lebih baik kamu bercerita kronologi kejadian tadi pagi.”Pinta tukang pijat.

Kupikir itu masuk akal juga. Sekalian aku curhat dan melupakan rasa sakit sejenak. Berikut ceritaku:

“Tadi pagi setelah jam sekolah berakhir, aku dan kawan-kawanku menjenguk temanku yang tidak masuk sekolah selama tiga hari, melewati jalanan rusak nan tampak gersang pepohonan di sekitarnya. Ada salah satu temanku yang indigo, Dila. Dia melihat terdapat banyak makhluk kasat mata di sebelah jalan yang kami lewati.

Dila bisa merasakan hal yang terjadi pada masa lampau di tempat tersebut. Tepatnya di sekitar pohon tua besar.Ada sosok hitam dengan perawakan tinggi dan ukuran tubuh mencapai diameter dua meter yang menghuni pohon tua besar itu.

Laju kendaraan kami tidak kencang walau sebenarnya jalanan dalam suasana hening.Dedaunan di sekitar membisu, angin pun enggan menemani.

Sampai di lokasi yang cukup dekat dengan pohon tua besar kami memarkirkan motor persis di depan rumahnya Keyla, pemilik rumah. Keyla menyambut kedatangan kami, karena ada yang memberi tahu sebelumnya.”

Kira-kira seperti itu prolognya. Aku menghela napas sejenak, pindah posisi untuk memudahkan prosesi memijit.

“Next!” Sambung tukang pijat.

Tukang pijat itu bergaya ala ibu muda zaman now. Terlihat dari gaya bicara dan raut wajahnya. Ok lah, aku berusaha memakluminya.

BACA JUGA  Hujan yang Menggagalkan

“Baru saja sampai di dalam rumah, Dila spontan menunjukkan gelagatanehnya. Kami curiga dengannya. Aku bertanya siapa nama Dila yang asli, namun ia tidak mampu melafadzkan nama aslinya, Nur Aini Fadhillah. Sedangkan yang lainnya sibuk mengoceh sehat, aku bersama Rianty berusaha untuk memulihkan kondisi Dila seperti sedia kala. Aku curiga bahwa Dila kesambet penghuni pohon tua di pinggir jalan yang kami lewati.

Maklum saja, Dila mudah merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk astral sedari kecil. Aku mencoba untuk berkomunikasi lisan dengan makhluk yang merasuki tubuh Dila. Kusuruh makhluk itu pergi meninggalkan Dila alias tidak mengganggu.

Aku tanya siapa namanya dan dari mana makhluk tersebut berasal. Katanya ia adalah seorang wanita pada zaman dahulu yang diperbudak oleh Belanda. Hingga sekarang ia juga diperbudak oleh teman sealamnya, dunia gaib.”

Di sela aku sedang asyik bercerita, tukang pijat memegang kakiku yang memar. Bukan main rasa sakitnya. Aku memberontak ingin menyudahi pijatan kasar ini. Namun apa daya, hati kecilku berkata bahwa aku harus segera sembuh dan bisa berjalan seperti sedia kala.

Aku menjerit dalam diam. Menutup mulutku rapat-rapat. Berusaha untuk bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Membaca e-book, mendengarkan musik, serta menonton video adalah caraku untuk menenangkan diri. Mencoba berteman dengan rasa sakit.

“Santai, tidak akan sakit kok. Hanya sebentar, besok pagi kamu juga udah bisa lari-lari kecil. Silakan dilanjut ceritanya!” Dengan tenangnya tukang pijat itu berkata, tanpa memikirkan kondisi kakiku yang amat sakit.

“Ok lah. Sepertinya Anda ingin tahu banget tentang kelanjutannya”

Aku melanjutkan ceritaku sembari mendengarkan suara pelan musik dari benda tipis berbentuk persegi panjang yang ada di sebelahku.

“Sebut saja namanya Mbak Jef, makhluk dari alam lain yang merasuki tubuhnya Dila.Berulang kali aku dan Rianty menyuruhnya keluar, berulang kali juga Mbak Jef memberontak. Rianty membaca beberapa ayat al Qur’an sembari memegang kakinya Dila.

Datanglah beberapa teman kami yang ingin membantu dengan membacakan ayat kursi. Semakin memberontak pula Mbak Jef. Kami kesulitan untuk mengeluarkannya. Aku mencoba dengan cara yang halus. Kusuruh Mbak Jef pergi, nanti akan kuajak ia jalan-jalan. Kalau masih juga tidak keluar, akan kupukuli ia.

Tiba-tiba Dila menangis, yang sebenarnya menangis ialah Mbak Jef yang merasuki tubuhnya Dila. Rianty bertanya gerangan apa ia menangis. Dan jawabannya membuat kami tercengang. Ia meminta tolong agar ia bisa bebas dari perbudakan yang dialaminya selama ini.

BACA JUGA  Sego Gandul, Kuliner Khas Dari Pati Jateng

Kami tidak sanggup memenuhi permintaan dari Mbak jef. Dengan alasan belum saatnya untuk kami ikut campur dalam permasalahan yang dialaminya selama ini. Kekuatan dari penguasa alamnya Mbak Jef bisa dibilang bukan tandingan kami.

Sedikit demi sedikit Dila mulai mengontrol dirinya. Dari hasil berbicaraintens dengan Mbak Jef. Akhirnya Mbak Jef mau keluar dari tubuh Dila. Ia pergi ke tempat asalnya, pohon tua besar. Aku menyuruh Rianty untuk memberikan air putih agar diminum oleh Dila.

Kondisi kembali seperti semula. Tidak ada lagi ketegangan, yang ada ialah canda tawa guna menyemangati Keyla yang sedang sakit agar cepat sembuh dan mau minum obat dari dokter. Keyla walau sudah besar sekalipun masih punya watak manja. Tidak mau minum obat jikalau belum terpenuhi keinginannya.

Saat berbincang-bincang di kamarnya Keyla, ia curiga kepada aku, Dila, dan Rianty yang masuk ke kamarnya  paling akhir. Dia bertanya kepadaku, dengan sigap aku menjawab jikalau aku, Dila, dan Rianty tadi mencari udara segar di luar terlebih dahulu. Semuanya beres, tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan. Dila dan Rianty juga membenarkan perkataanku. Kami tidak ingin membuat yang lain tahu tentang kejadian tadi. Aku rasa ini privasi.”

Aku menyudahi ceritaku. Aku rasa itu sudah cukup. Biar lah tukang pijat sendiri yang menafsirkannya.

“Kok berhenti ceritanya? Lanjutin dong. Nanggung kalo bercerita setengah-setengah. Bisa bikin orang lain penasaran. Lagi pula pijatannya masih lama.”

Tukang pijat semakin kepo dengan ceritaku. Namun aku semakin malas untuk bercerita, dikarenakan pijatannya sakit, Si Doiku belum ada kabar, serta baterai hpku dalam kondisi tragis.

Aku tak menjawab sepatah dua patah kata apa pun.

“Kenapa? Kok diam? Apa hubungan antara peristiwa jatuhmu dengan cerita di rumah temanmu?”Tukang pijat masih terus bertanya.

Aku pun melanjutkan ceritaku.

“Setelah beberapa menit aku mengobrol ria dengan teman-temanku di kamarnya Keyla. Kini tiba saatnya kami pulang. Aku berboncengan dengan Rianty. Sedangkan  yang lainnya mampir di sebuah toko yang tak jauh keberadaannya dengan rumahnya Keyla. Aku dan Rianty bosan menunggu. Memilih untuk pulang duluan, meninggalkan yang lain.

Aku berada di depan, membonceng Rianty. Sejak awal menyentuh setang motor diriku sudah merasa aneh, tidak seperti biasanya. Bukan hanya tentang motor yang aneh namun, perasaanku juga merasa demikian.

BACA JUGA  Lowongan Kerja Guru Jawa Tengah

Karena aku dan Rianty berpisah dari teman-teman, kami tidak tahu arah pulang. Jalan yang kami lalui waktu berangkat dan pulang berbeda. Kami sempat tersesat di jalanan buntu. Sehingga memutuskan untuk putar arah, mencari jalan keluar. Akhirnya bertemu juga dengan jalan yang seharusnya kami lalui.

Dalam perjalanan pulang, Rianty terus mengajakku berbicara. Namun, aku agak risih. Topik pembahasannya itu-itu mulu. Sering diceritakan hampir tiga kali dalam sehari. Ya, apalagi kalau bukan tentang hubungannya dengan cowoknya. Menurutku hal itu unfaedah, membuang-buang waktu saja. Demi untuk membuatnya senang dan hitung-hitung aku berlatih menjadi penyimak yang  handal semata.

Aku saat itu sedang fokus mengendarai motor, tanpa memedulikan Rianty yang masih ngoceh di jok belakang. Tidak menggubris sama sekali.

Sampai di dekat pohon tua besar diriku merasakan hal aneh itu semakin gila. Laju motorku dalam batas normal, tetapi terasa berat seperti ada beban berat. Perasaan kalau berat badannya Rianty sih bukan. Secara dirinya kan titisan dari si ceking, pemain sinetron zaman dahulu yang terkenal dengan tubuh yang kurus dibanding teman sebayanya.

Aku semakin kebingungan, ingin rasanya berbicara kepada Rianty, tapi takut jikalau mengganggu konsentrasiku. Dan benar saja, pikiranku pecah. Aku tidak mampu mengendalikan sepeda motorku.

Gubrakk,

Motor seketika roboh. Aku dan Rianty juga ikut jatuh. Aku berteriak menyebut istigfar, sampai seorang pemuda mendengar teriakanku dan segera menolong. Ketika pemuda tersebut memeriksa motorku, menyelidiki sebab kecelakaan yang kami alami, motorku tidak dapat digerakkan sama sekali. Ban motor yang depan ketika disentuh terasa sangat panas.

Rianty cuma lecet sedikit, sedangkan kakiku terasa perih. Dari kejauhan datanglah beberapa teman kami. Dila mencoba menggerakkan motorku,  ditangannyalah motorku dapat bergerak. Aneh tapi nyata. Aku yang masih menangis pun kebingungan dengan motorku yang tidak bisa digerakkan oleh pemuda tadi, namun bisa digerakkan oleh tangan Dila.

Aku segera dibawa pulang ke rumah. Mereka bercerita panjang lebar kronologi sebenarnya kepada orang tuaku. Syukurlah, orang tuaku tidak marah. Malahan menyuruhku pergi ke sini, takut kalau ada tulang yang tidak pada tempatnya.”

“Ok. Cerita berakhir, pijatanku pun berakhir juga,” sahut tukang pijat

“Dan aku pun baru merasakan arti sebuah kemerdekaan,” timpalku

Kami tertawa lepas. Aku langsung menemui ayahku, pamit dan langsung pulang ke rumah. Malam juga mulai gelap.

 

Penulis : Lathifah S (santri pegiat sastra)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *