KEGAGALAN BERBUAH TAUBAT

Keyakinannya telah bulat. Apa pun hasilnya akan diterima dengan lapang dada. Bahkan separuh hidupnya ia habiskan untuk mempersiapkan acara yang digadang-gadang mampu menyihir penonton atas penampilannya kelak di panggung. Sehari sebelum hari H, ia telah berpesan kepada anak semata wayangnya jika nanti ia menang, ia berjanji akan insaf dan kembali ke jalan fitrah lagi. Sedangkan anaknya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala di atas pangkuan ibunya.

Setelah sekian lama ia hidup dengan bebasnya tanpa memedulikan orang di sekitar. Tetangga serta keluarga dekatnya telah mengetahui itikad baik itu. Mereka pun mendukung seratus persen demi tercapai kemenangannya.

Sebut saja namanya Siti Nur Pajrin. Ibu muda yang mempunyai sifat fanatik terhadap apa yang disukainya. Tidak nanggung-nanggung. Sekali dia suka terhadap sesuatu, baik itu berupa benda maupun non benda ia akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih keinginannya.

Rendi, anak semata wayangnya pun menempati posisi ke dua dalam hati maupun pikirannya.

Pernah suatu hari ia ingin berkunjung ke Palestina karena ingin tahu keadaan sebenarnya dan melihat langsung kondisi penduduk Palestina saat itu. Demi memanjakan hawa nafsunya, ia rela meninggalkan anak semata wayangnya yang masih kecil, berusia sekitar enam bulan. Di sana ia hanya berfoto-foto ria, mengambil background pemandangan seindah mungkin untuk diposting di akun media sosialnya.

Di era milenium ini, Siti sebagai ibu muda pun tak ingin ketinggalan zaman. Opininya menjelaskan bahwa aktif di media sosial dan memiliki followers banyak akan membuatnya dipandang sebagai orang yang menempati kasta tinggi.

Padahal kondisi Palestina saat itu sedang genting-gentingnya. Banyak terjadi pengeboman yang dilakukan oleh zionis Israel. Mereka tidak pandang bulu. Siapa pun orangnya. Pemerintah setempat menghimbau kepada penduduknya agar selalu mawas diri.

Kakaknya bernama Maryam Nur Pajrin. Nama belakang keluarga besarnya selalu diakhiri dengan nama Pajrin sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh terdahulu keluarga besarnya. Siti sungguh menjunjung tinggi nama tersebut dan bangga atas gelarnya sebagai ibu muda nan fanatiknya minta diampunin.

Karena sifat fanatiknya itulah suaminya pergi merantau, meninggalkan dirinya saat mengandung usia tiga bulan.

Kini, ia dan Rendi tinggal satu atap  bersama kakaknya, Kak Dijah. Tragis. Sangat tragis nasib anaknya.

 

***

 

Menuju hari H Siti menyuruh kakaknya, Dijah Pajrin, untuk memilihkan gaun yang super indah miliknya.

“Kak, aku cocoknya pakai gaun yang mana?” tanya Siti sambil menunjuk lemari berisi koleksi gaun-gaun kesayangannya.

BACA JUGA  Hujan yang Menggagalkan

“Terserah.” Singkat, padat, dan jelas Dijah menjawab.

“Emm… coba aku perlihatkan dulu ke Kakak, ya.”

Dengan gagahnya Siti jalan cepat menuju ke lemari pakaiannya.

“Nah, yang ini kayaknya cocok, Kak.” Dari kejauhan Siti menenteng gaun kesukaannya yang akan diperlihatkan kepada Kak Dijah, sapaan akrabnya.

“Itu terlalu vulgar. Kakak tidak suka kalau kamu pakai gaun itu.”

Siti diam. Sementara Kak Dijah menghampirinya.

Sambil membawa gaun Kak Dijah menunjukkan pilihannya, “Nah, ini yang kurasa cocok dengan kamu.”

“Tapi,”

“Nggak ada tapi-tapian. Kamu pakai yang ini saja.”

Belum sempat Siti melanjutkan nota keberatannya, Kak Dijah memotong pembicaraannya. Akhirnya ia pun menuruti kemauan kakaknya itu dengan berat hati.

Persiapan untuk tampilnya sudah rampung 80%. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja. Pendukung terbaiknya pun mulai berdatangan, termasuk anak dan kakak kandungnya sendiri. Siti melanjutkan kegiatannya dengan kesibukan mengurus anak semata wayangnya itu.

Petani mulai pulang ke rumah masing-masing, pertanda bagi Siti untuk memandikan Rendi. Sedari siang Rendi belum makan karena tidak nafsu makan plus belum disuapi oleh ibunya sendiri.

Walaupun Kak Dijah telah berusaha membujuk Rendi, namun tetap saja naluri kekanakannya itu tak dapat dielak.

“Siti, Siti, urus tuh anak kamu, Rendi,” teriak Kak Dijah dari bilik kamarnya.

“Iya, Kak. Ini juga lagi mengurus Rendi”

Kak Dijah menghampiri Siti yang sibuk dengan anaknya.

“Kok belum mau makan?”

“Nggak tahu, Kak. Dari tadi Rendi susah banget disuruh makan. Katanya pengen diajak jalan-jalan.”

“Ya udah. Ajak jalan-jalan dong.” Kak Dijah memberi saran.

Sementara Siti bersikukuh tak ingin jalan-jalan. Ia harus menyiapkan pentasnya besok. Mengumpulkan stamina yang prima demi kelancaran penampilannya.

Adu mulut pun terjadi antara Kak Dijah dengan Siti. Kak Dijah merasa kasihan terhadap Rendi yang kurang mendapat kasih sayang dari ibunya. Apalagi Rendi lahir dalam keadaan ditinggal oleh ayahnya. Pantas baginya untuk disayangi dan dibahagiakan.

Akhirnya Rendi pergi jalan-jalan keliling kampung bersama tantenya, Kak Dijah. Mereka membiarkan Siti yang bertemankan segudang kesibukannya.

“Lendi senang sekali, Bun,” ungkap Rendi dengan bahasa cadelnya kepada Kak Dijah.

“Iya, Nak. Bunda juga senang lihat anak bunda yang satu ini bahagia.”

Bunda adalah panggilan khusus Rendi buat tantenya, Kak Dijah. Dia sudah menganggap Kak Dijah sebagai ibunya sendiri yang sedari kecil selalu bersamanya dalam keadaan apa pun. Begitu pun Kak Dijah yang kebetulan belum pernah menikah dan tentunya tidak memiliki anak. Mereka kelihatan akrab layaknya ibu dan anak satu darah.

BACA JUGA  PIJAT

Lain halnya dengan Siti di rumah. Ia benar-benar kehilangan seperempat kadar kewarasannya. Dandan sana sini, alisnya tebal seperti kejatuhan tinta spidol, bibirnya merah merona bak habis makan darah, serta segudang keanehan lain yang ada pada dirinya sore itu. Padahal pentasnya besok. Lantas untuk apa Siti berpenampilan seperti itu?

“Andai kata aku besok juara, pasti semua orang akan bersahutan memujiku.” Ujar Siti di depan cermin besar miliknya dengan menyengir senang.

Suaranya dilatih semaksimal mungkin. Cek vokal A-I-U-E-O.

“Siti, Siti,” terdengar jelas ada yang berteriak memanggil namanya dari luar.

“Ada apa sih? Aku sedang sibuk.” cetus Siti, tak menghiraukan tetangganya.

Kebetulan pintu depan tidak dikunci. Awalnya Kang Parman ragu untuk masuk, tapi karena saking gawatnya situasi dan kondisi, ia pun masuk tanpa izin.

Kang Parman menepuk pundak Siti, “Siti! Kamu malah asyik di depan cermin, lihat tuh anak kamu ditabrak motor!”

“Apa? Bukannya tadi Rendi keluarnya sama Kak Dijah.” Siti kaget bukan kepalang.

“Iya. Waktu Dijah membeli es krim buat anakmu, Rendi disuruh nungguin di kursi taman. Terus si Rendi lari ke jalanan dan akhirnya tertabrak oleh motor.” Dengan nafas terangah-engah Kang Parman menjelaskan kronologi kejadiannya.

Siti yang kaget tak kuasa mengangkat tubuhnya pergi menemui Rendi. Ia pingsan.

Suasana sore semakin tak karuan kala si penabrak Rendi menancap gas pergi begitu saja tak mau bertanggung jawab. Sebagian warga mengejarnya dan sebagian lagi membawa Rendi ke puskesmas terdekat untuk ditangani.

Lukanya tidak serius, namun bagi seusia Rendi itu cukup menyakitkan sehingga perlu beristirahat selama beberapa hari di puskesmas.

“Maafkan tante ya nak!” Mata Dijahberkaca-kaca kala melihat kondisi Rendi.

Kak Dijah mengelus-elus pipi Rendi.

“Aauuu,, sakit,” keluh Rendi merasakan perihnya lutut yang masih dibungkus perban.

Dari mulut pintu datanglah Siti yang berdandan layaknya biduan malam Jumat, eh, malam Minggu.

“Rendi, kamu baik-baik saja ‘kan, Nak?” tanya Siti kebingungan. Mengecek tubuh Rendi dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki.

“Mama” Rendi lantas menarik lengan mamanya.

Kak Dijah, Kang Parman beserta warga lainnya antara ingin menertawakan penampilan Siti juga ikut sedih melihat wajah mungil Rendi. Mereka menumpukkan tangannya di atas mulut yang menahan gelak tawa.

“Allahu akbar…Allahu akbar…..”

Suara Muadzin jelas terdengar dari samping puskesmas kecamatan. Warga bergegas pulang. Menyisakan Siti, Kak Dijah, beserta Rendi yang masih terbaring di atas kasur kesakitan. “Aku sholat dulu ya. Kamu tetap di sini, nanti gantian.” Sambil menenteng tas Kak Dijah keluar menuju mushalla di samping puskesmas.

BACA JUGA  Dilema Santri (Cerpen)

“Tapi aku harus persiapan buat penampilanku besok.” Siti berusaha menawar titah kakaknya itu.

Sedangkan Kak Dijah tak menghiraukan perkataan Siti. Menoleh pun tidak.

***

Hening, sepinya suasana malam hari di puskesmas nyaris membuat Siti memberontak ingin pulang. Bayang-bayang penampilannya yang memukau seakan hilang. Bagaimanapun ia harus merawat Rendi di puskesmas. Namun apakah ia juga sudah siap menerima diskualifikasi dari tim juri atas ketidakhadirannya?

Ia tidak tega meninggalkan Rendi, tapi ia pun tidak kuasa meninggalkan acaranya.

“Oh Tuhan, inikah teguran dari-Mu atas keegoisanku selama ini?” Doa Siti di tengah-tengah renungannya.

Siti menangisi kelakuannya selama ini yang terlalu egois. Deruan tangisnya memecah keheningan malam itu. Hingga ia pun ketiduran.

Kak Dijah diam-diam mengamati Siti. Batinnya merasa iba melihat adik tercinta bersedih. Menurutnya kejadian adalah cara agar Siti dapat merubah pola pikirnya selama ini.

Sampai sinar matahari datang melalui celah jendela, Siti belum bangun dari tidurnya. Lain halnya dengan Kak Dijah yang bangun sewaktu adzan subuh berkumandang. Hal ini sudah menjadi bagian dari hidup Siti.

Pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Rendi pun masih molor. Padahal jam dinding menunjukkan pukul 09:15, waktu tampil Siti.

“Siti bangun.” teriak Kak Dijah di dekat telinga Siti.

“Siti..” Untuk yang kedua kalinya dengan nada agak diperhalus.

“Sitiii……………………….” Kak Dijah mengeraskan suaranya.

Sontak saja Siti loncat dari tidurnya.Anehnya yang diingat pertama kali ialah kondisi pentasnya.

“Astaga, Aku lupa hari ini jadwal pentasku.”

“Baca dulu surat ini!” perintah Kak Dijah sembari menyodorkan selembar kertas putih dari panitia lomba.

Mata bulat Siti mulai menumpahkan rasa sedihnya tak kala membaca untaian kata yang menyatakan diskualifikasi kepadanya.

“Udah gak papa. Belum bagianmu untuk menang. Sekarang lebih baik kamu fokus mengurus Rendi yang terkulai lemah. Ia butuh kasih sayang serta perhatianmu. Dan insafmu harus kau penuhi,” tutur Kak Dijah lembut.

“Iya, Kak. Mulai saat ini dan detik ini aku akan bertobat, menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Siti mengusap air mata di pipinya.

 

Penulis :  Lathifah S*

*Aktivis Giat Literasi Forum Pecinta Buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *