Ilustrasi Hujan
Ilustrasi Hujan

Hujan yang Menggagalkan

beritapantura.net – Semua telah ku kerjakan, tugasku sudah selesai, laptop sudah ku matikan. Hari ini memang melelahkan, tapi melegakan. Aku berfikir semuanya yang telah selesai baik-baik saja. Tak ada masalah, tak ada kekurangan, dan jangan sampai ada revisi.

Aku bekerja sebagai operator sekolah, sehari-hari membuat dan mengolah data. Memasukkan satu-persatu ke dalam aplikasi. Mengarsipkan semua data yang masuk dan keluar. Iya, seperti itu setiap harinya.

Hari ini, aku ada pertemuan dengan segerombolan manusian yang haus kegiatan. Setiap hari selalu mengajak aktifitas yang tidak menghasilkan. Tapi selalu mengeluarkan, tenaga, pikiran, juga uang. Asik sih ya, tapi kalau keseringan bikin pusing juga.

Setelah laptop tertutup dengan rapi. Belum masuk ke dalam tas. Dino sudah menelfon, menanyakan, nanti sore jadi apa tidak untuk pertemuan membahas kegiatan kedepan. Aku sangat lelah, jawabku hanya “iya” saja. Lalu sambungan telfon terputus karena sinyal WiFi mati. Listrik padam. Payah.

Jam di kantor menunjukkan pukul 12.30. Adzan dhuhur sudah berlalu 50 menit yang lalu. Dengan memaksa diri aku berjalan dengan pelan menuju kamar mandi, kencing, wudlu, lanjut solat. Dalam solat, ketika sujud aku agak lama, karena di kepala terasa nyaman dan rileks. Solat selesai, aku berdoa. Meminta hidup bahagia dunia akhirat.

Listrik hidup, Dino menelfon lagi, memberi kabar.Lokasi tempat kita ngumpul diguyur hujan lebat. Dan ternyata di sini juga mulai gerimis. Aku segera masuk ruangan kerja kembali. Tubuh terasa capek. Aku tak ingin memaksa diri berangkat sekarang, acara masih nanti pukul 15.30. Tidur jadi pilihan untuk melepas lelah.

*

Dino adalah sahabatku dia saat ini masih kuliah. Usianya di atasku 2 tahun. Tetapi ia adik kelasku. Aku lebih dahulu lulus tahun lalu. Dia kini masih proses skripsi. Prediksinya ia akan molor. Karena proposal saja belum ia beresi. Sedang untuk tahun ini jadwal sidang skripsi kampus tinggal satu kali. Itu pun tinggal 2 minggu lagi. Mustahil dia lulus tahun ini.

BACA JUGA  PIJAT

Dulu ketika aku masih kuliah yang menemani tidur dan aktifitas sehari-hari ya di Dino. Walau sering kita cekcok karena beda pendapat, beda cara pangdang, namun dia tetap setia hingga sekarang. Satu hal yang menyebalkan darinya —temperament.

Asiknya dia suka diajak ngehalu atau mengkhayal. Membayangkan jadi mentri negara, jadi orang kaya, jadi milyader. Tentu yang namanya mengkhayal itu inginnya yang enak-enak. Tak pernah ingin susah. Prinsipnya; kalau bisa mudah kenapa harus susah.

Salah satu hal yang ingun kita capai bersama adalah punya perusahaan bersama, punya kantor sendiri, bepergian pakai mobil inventaris perusahaan. Masih ku ingat, dia pengen mobil iventaris warna kuning. Entah kenapa dia suka warna itu. Sebenarnya aku tak suka, tapi karena itu hanya khayalan, ya ku ‘iyain’ saja.

*

Petir menggelegar, terdengar tepat di atas kantor kerjaku. Aku terbangun, kaget, suasana kantor gelap, ternyata listrik mati lagi. Sial! Aku sendirian, hujan semakin lebat, petir bersautan bak lomba kicau burung.

Aku bingung mau ngapain. Hanya bisa duduk dan melihat hujan turun dengan derasnya. Aku punya ide buat story whatsapp. Lalu ku video hujan turun dari dalam kantor. Caption-nya “Terjebak hujan lebat di sekolah.” Lebay sekali. Namanya juga orang gabut —bingung mau ngapa-ngapain.

Aku berfikir jika hujan tak kunjung reda, maka batal ikut pertemuan. Ku timbang-timbang ide itu. Setelah setengah jam menimbang, ada pemberitahuan jalur ke lokasi pertemuan sedang tergenang banjir. Maka, segera ku beritahu si Dino, “Din, maaf ya. Aku belum bisa hadir hari ini. Hujan sangat lebat. Jalur yang biasa ku lalui sedang banjir.”

Penulis: Ahmad Rifa’i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *